Langsung ke konten utama

Postingan

Jalan Pulang

Pada suatu sore, Saya berdiri di pinggir jalan yang berlatarkan senja. Bagi Saya, setiap senja selalu menghadirkan makna. Tak jarang menemukan makna tentang kepergian yang begitu dramatis, hingga hati seakan teriris. Terkadang pula menemukan makna tentang rindu, hati menjadi sendu karena tak kunjung bertemu. Atau bahkan menemukan makna tentang bahagia, mensyukuri karya langit terindah oleh Sang Pencipta. Semua makna tergantung bagaimana sudut pandangnya. Ada yang memandang senja itu metafora, karena segala hal yang indah di dunia ini adalah fana. Ada yang memandang senja itu warna. Terkadang merah merekah seakan bahagia. Ada yang memandang senja itu kisah. Perjalanan rasa seseorang yang dadanya tabah karena ditinggal menikah. 😅 Tapi bagiku, senja itu jalan pulang. Mengingatkan kita bahwa hidup yang kita tempuh. Sejauh apapun kaki melangkah, sejatinya akan ada habisnya dan ada ujungnya. Yakni jalan pulang kembali kepada-Nya. 🙏 AAN RIDWAN #30haribercerita

Menyampaikan Pesan

Menjadi seorang freelancer itu harus pandai-pandai memanfaatkan peluang. Kadang Saya menjadi tukang kurir, pengajar privat atau bahkan tukang bersih-bersih di suatu kosan. Pagi kadang nganggur, siang dapat tawaran job, sorenya ada jadwal ngajar privat dan malam harinya biasanya kembali santai menjadi manusia merdeka. Kadang Saya main hajar aja. Saya pikir, selagi masih muda sebisa mungkin mengisi hidup dengan hal-hal yang produktif. Selama pekerjaan itu halal bagi Allah, Saya hajar aja. Saya eksekusi aja. Kemarin, ceritanya Saya sempat dibuat sibuk. Pagi hari ada pekerjaan bersih-bersih kosan. Sore hari ada jadwal mengajar privat di Bandung. Selepas magrib ada tawaran job mengantar berkas ke Cimahi. Dan malam itu juga harus dikirim berkasnya ke Jakarta. Kalau di posisi seperti itu Saya sempat berpikir santai. Tidak cepat ambil keputusan. Mungkin peluang-peluang yang lain akan hilang. Kalau waktu itu, Saya punya pikiran menunda di esok harinya. Mungkin ceritanya tidak s...

TENTANG LARI PAGI

"Kamu mah ga lari, tapi update" komentar salah satu teman saat melihat update story whatsApp Saya pagi ini. "Biarin weh" jawabku dengan  simpel  Mungkin maksudnya dia hanya bercanda. Tapi kalau dipikir-pikir. Ada benernya juga, sih. Itu sah-sah saja. Sebagai netizen memang bebas nyinyir. :) Setiap komentar, mungkin punya alasan. Entah alasan hanya bercanda. Atau memang punya tujuan tertentu. Saya mah, suka dua-duanya. Artinya sejauh ini hidup Saya tidak sendirian dan masih dipedulikan. :') Terkadang kita bisa belajar dari hal-hal sederahana. Misal seperti cerita lari tadi. Awalnya mungkin bercanda. Tapi kalau mau dipikir kembali. Sebenarnya itu mengingatkan siapa saja yang kebiasaan jarang lari, sekalinya lari malah sibuk update di media sosial.  Oke, ga ada yang salah koq. Semua punya madzhab masing-masing dalam bermedia sosial. Mungkin ada yang madzhabnya "media sosial al-pameri" Semua aktivitas kehidupan di dunia n...

Tentang Pencapaian Sederhana Saya di tahun 2018

Sepanjang tahun 2018, ada beberapa pencapaian sederhana yang telah Saya raih. Mulai dari pencapaian di dunia pendidikan, dunia pekerjaan, dunia perjuangan bahkan tentang mengikhlaskan hati seseorang. Saya bukanlah orang besar. Bukan juga orang hebat. Tapi sepanjang perjalanan tahun ini, Saya sering dipertemukan dengan orang-orang besar dan hebat.  Saya setuju dengan ungkapan "Setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru" karena bagi Saya, kita bisa belajar dimanapun dan kepada siapapun. Tak terbatas oleh ruang-ruang kelas. Tak terhalangi oleh dinding-dinding profesi. Mungkin bisa saja kita belajar kepada seorang tukang becak, kalau isi kepala dan seluruh jiwanya mengajarkan kita tentang bagaimana hidup dengan bajik dan bijak.  Dari hal itu, Saya ingin sedikit berbagi pencapaian yang telah Saya dapatkan. Bukan untuk menyombongkan diri. Tapi lebih ingin bercerita pada diri sendiri, sebelum ke orang lain. Bahwa ada hal-hal sederhana yang patut d...

Terima Kasih Tahun 2018, Yang Telah Menguatkan

Di penghujung tahun 2018, semoga hingga detik ini siapapun yang membaca tulisan ini sedang dilingkupi perasaan bahagia dan didekap lembut rahman dan rahim-Nya Allah dalam meniti kehidupan ini. Hayu bersyukur dulu atuh. Allah tuh udah kasih kita banyak nikmat ketimbang ujian, lho.  Yakin masih mau mengeluh? Sahabat blogger, silent reader, stalker, pejuang literasi, atau apapun sebutan bagi orang-orang yang suka dalam dunia tulis menulis atau baca-membaca. Mungkin sepanjang tahun 2018 ini punya banyak pengalaman. Tidak sedikit pengalaman itu menjadi keinginan untuk dibagikan. Membagikan dengan cara menyampaikan isi kepala lewat ttulisan.Tapi koq kadang-kadang terhambat ya. Tersendat oleh banyaknya pikiran. Terhalang oleh padatnya kegiatan. Hinga jadilah hanya sebuah keinginan belaka. Belum sampai jadi perwujudan nyata. Tak mengapa, jangan rapuh. Kamu nggak sendirian. Kamu bersamaku. Menjadi bagian orang-orang yang banyak inginnya, sedikit usahanya. :) Eh, tunggu dulu. Seti...

1 Dekade IKAMATRA berdiri, Masih Ingatkah Dirimu?

Kemarin, ada notif yang menarik dan berbeda dari grup WhatsApp Alumni IKAMATRA (Ikatan Keluarga Mahasiswa Sumatera) begini isinya: "Kadang Ikamatra hanya organisasi daerah semata. Kadang dianggap tak bermakna. Bahkan yang parah, kadang dianggap sebagai beban dan tak berguna. Tapi bagiku, Ikamatra itu keluarga. Dengan segenap keberagaman orang-orangnya. Ikamatra itu sangat bermakna dengan segala kejadian-kejadian yang ada. Semoga kedepannya Ikamatra tetap ada. Karena kita butuh Ikamatra. Semoga 10 tahun ini menjadikan Ikamatra lebih baik dan baik lagi. Selamat milad keluargaku. (22 November 2008-22 November 2018)" Menurut pandangan Saya, sebagai salah satu alumni dan bagian dari keluarga di dalamnya, kata-kata itu sederhana tapi mampu menusuk dan mengingatkan Saya khususnya, untuk turut merenungkan dan memikirkan. Saya akan coba bedah kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Hingga apasih maksud dan tujuan dari tulisan itu. Kadang IKAMATRA Hanya Org...

Ketika Hati Ingin Bersuara

Ketika hati ingin bersuara, namun pikiran terbelenggu oleh kepenting pribadi, paling jauh untuk keluarga. Anak-anak yang lucu, pasangan hidup yang nyaman, ayah dan ibu yang serba mencukupkan. Ketika hati ingin bersuara, namun hawa nafsu sering menang menari-nari di atas dosa durjana yang kita sembunyikan. Ketika hati ingin bersura, tapi isi kepala lebih berontak. Mampus! Hatimu kalah lagi. Jatuh tersungkur. Babak belur. Dan terseok-seok mencari kebenaran. Nyatanya, hidup memang sepicik ini. Kita merasa MEMILIKI SEMUA. Potensi badan,  jiwa, dan pikiran seakan ada dengan sendirinya lalu tinggal pake saja. Semua fasilitas hidup hari ini yang kita NIKMATI. Seakan-akan hanya jerih payah tangan kita yang mengusahakannya. Ingin hidup senaknya. Bebas tanpa batas. Hingga barulah kita tersadar saat ditimpa beban yang begitu berat. Ujian menghantam kita bertubi-tubi. Apa-apa yang kita CINTAI diambil oleh-Nya. Kemudian dengan piciknya, manusia berkata "Tuhan tidak adil! Duni...