Langsung ke konten utama

Postingan

1 Dekade IKAMATRA berdiri, Masih Ingatkah Dirimu?

Kemarin, ada notif yang menarik dan berbeda dari grup WhatsApp Alumni IKAMATRA (Ikatan Keluarga Mahasiswa Sumatera) begini isinya: "Kadang Ikamatra hanya organisasi daerah semata. Kadang dianggap tak bermakna. Bahkan yang parah, kadang dianggap sebagai beban dan tak berguna. Tapi bagiku, Ikamatra itu keluarga. Dengan segenap keberagaman orang-orangnya. Ikamatra itu sangat bermakna dengan segala kejadian-kejadian yang ada. Semoga kedepannya Ikamatra tetap ada. Karena kita butuh Ikamatra. Semoga 10 tahun ini menjadikan Ikamatra lebih baik dan baik lagi. Selamat milad keluargaku. (22 November 2008-22 November 2018)" Menurut pandangan Saya, sebagai salah satu alumni dan bagian dari keluarga di dalamnya, kata-kata itu sederhana tapi mampu menusuk dan mengingatkan Saya khususnya, untuk turut merenungkan dan memikirkan. Saya akan coba bedah kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Hingga apasih maksud dan tujuan dari tulisan itu. Kadang IKAMATRA Hanya Org...

Ketika Hati Ingin Bersuara

Ketika hati ingin bersuara, namun pikiran terbelenggu oleh kepenting pribadi, paling jauh untuk keluarga. Anak-anak yang lucu, pasangan hidup yang nyaman, ayah dan ibu yang serba mencukupkan. Ketika hati ingin bersuara, namun hawa nafsu sering menang menari-nari di atas dosa durjana yang kita sembunyikan. Ketika hati ingin bersura, tapi isi kepala lebih berontak. Mampus! Hatimu kalah lagi. Jatuh tersungkur. Babak belur. Dan terseok-seok mencari kebenaran. Nyatanya, hidup memang sepicik ini. Kita merasa MEMILIKI SEMUA. Potensi badan,  jiwa, dan pikiran seakan ada dengan sendirinya lalu tinggal pake saja. Semua fasilitas hidup hari ini yang kita NIKMATI. Seakan-akan hanya jerih payah tangan kita yang mengusahakannya. Ingin hidup senaknya. Bebas tanpa batas. Hingga barulah kita tersadar saat ditimpa beban yang begitu berat. Ujian menghantam kita bertubi-tubi. Apa-apa yang kita CINTAI diambil oleh-Nya. Kemudian dengan piciknya, manusia berkata "Tuhan tidak adil! Duni...

Ayo, Bangun Bung!

Selamat pagi, Bung! Meskipun langit Bandung akhir-akhir ini tampak mendung, apakah itu representasi hatimu saat ini? Yang tahu persis hanya hatimu sendiri, Bung! Netizen boleh berasumsi dan nyinyir seenaknya. 😂 Yang jelas hidup terus bergerak. Yang pasti arah jarum jam tidak pernah mundur. Terus, mau sampai kapan kamu hidup dipikiran orang lain? Kalau hidup terus tergerus dan didominansi pihak lain, bagaimana kamu bisa menikmati kemerdekaan dalam hidup? Ayolah, Bung! Coba berpikir merdeka. Dunia semakin kejam. Tercabik-cabik oleh luka pergaulan global yang kian tampak arah kehancurannnya. Kalau hidupmu hanya memikirkan hatimu sendiri, dirimu sendiri dan tentang segala hal yang ideal. Kapan kita mau menafkahkan diri dan jiwa kita untuk tujuan hidup yang lebih besar. Perihal kepentingan Ummat Islam,  Bangsa dan Negara? Oh ya, mungkin kata-kata itu terlalu 'melangit'. Menurutku, tak mengapa. Asalkan tindakan kita dan sikap kita tetap membumi. Manusia adalah mak...

3 Hal yang Saya Rasakan Setelah 1 Tahun Rutin Blogging

Siapa yang tahu, kalau Hari ini merupakan hari bersejarah bagi para bloggers di Indonesia untuk "Mengenang" Hari Blogger Nasional yang diingat setiap Tanggal 27 Oktober. Sejarahnya Hari Blogger Nasional dicanangkan pada tahun 2007 oleh Menkominfo Muhammad Nuh pada pembukaan pesta blogger tahun itu. Saya pribadi merasa tergugah dan tersulut api semangat untuk turut mengucapakan "Selamat! Selamat Merayakan Hari Blogger Nasional untuk para bloggers dimanapun berada. Tetaplah menulis! Karena menulis adalah pekerjaan keabadian" Kata Pram. Awalnya Saya nggak tahu, kalau hari ini adalah hari yang penting. Penting karena bagi Saya hari ini adalah titik balik yang seakan mengingatkan Saya. Sudah sejauh mana kamu berperan dalam dunia literasi? Berkat mampir di twitter lalu iseng-iseng melihat tranding topic hari ini, eh ternyata Selamat Hari Blogger Nasional menjadi tranding topic nomor wahid. Kemudian Saya berpikir sejenak. Melihat balik setahun kebelakang, Apa ...

3 KEMUDAHAN BAYAR PAJAK MOTOR DI SAMSAT OUTLET LADIES

Setiap manusia pasti ingin hidupnya mudah, enak dan sesuai harapan. Tapi terkadang sebagian keinginan kita bertolak belakang dengan kenyataan. Itulah dinamika hidup. Kalau semua keinginan terpenuhi, bagaimana kita bisa belajar tentang makna hidup? Akan tetapi, hari ini ada yang sedikit berbeda dengan hidup Saya. Harapan Saya hari ini malahan bukan tentang ingin hidup mudah, tapi saya sudah siap mental dengan hidup sulit dan terkesan dipersulit. Ya betul, Karena berdasarkan pengalaman, Saya sudah terlalu sering dikecewakan oleh orang-orang berbaju rapih dan jarang senyum itu. Mereka adalah orang-orang birokrasi yang katanya memiliki tingkat profesionalisme dan integritas yang tinggi. Ceritanya hari ini Saya seperti berperan sebagai tukang biro jasa yang bertugas membayar pajak atau memperpanjang STNK milik orang lain. Saya di- hire oleh Bos Saya untuk mengurus Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) miliknya. Kebetulan hari ini adalah batas terakhir perpanjangan STN...

Selalu Ada Haru di Setiap Senja

Saya setuju, hal-hal yg biasa saja, pasti punya sisi luar biasa. Tergantung bagaimana sudut pandangnya. Katakanlah di setiap moment senja, sebagian orang mungkin memandang biasa saja. Ah.. cuma  saat matahari menjelang terbenam. Ah cuma langit yg berwarna jingga. Ah buang-buang waktu saja. Bagiku, memandang senja bukan hanya pada moment, cerita atau orang-orang yg mengabadikannya. Senja bukan hanya tentang mengabadikan. Tapi tentang menemukan. Menemukan rasa syukur di dalamnya, betapa maha Indah Allah yg telah menciptakannya. AAN RIDWAN

Teruntuk Bapak di Rumah, Bapak Seorang Petani Sawah.

Pak, Apa kabar hari ini? Saya disini selalu berdo'a, semoga Bapak senantiasa diberi kesehatan lahir dan bathin. Juga diberikan kekuatan kepalan tangan dan tumpuan kaki dalam hidup berjuang sebagai petani padi. Bapak mungkin hari ini belum tahu,  setiap tanggal 24 September ditetapkan sebagai Hari Tani Nasional. Karena mungkin Bapak terlalu pusing mengurus sawah yang perairannya hanya mengandalkan tadah hujan. Sedangkan sekarang sedang terjadi musim kemarau yang cukup panjang. Bukan hanya musim yang kemarau, tapi hati nurani mereka para pemangku kekuasaan. Atau mungkin Bapak sibuk mencari modal untuk biaya bertani yang semakin mahal. Karena hal ini tidak berbanding lurus dengan penjualan hasil panen yang selalu dibeli dengan harga murah oleh tengkulak-tengkulak yang bermental menindas dan kapital itu. Atau bahkan bapak semakin bingung dengan pemerintah yang tidak berpihak kepada petani kecil. Terbukti dengan polemik impor beras berjuta ton pada tahun 2018 ini. Sebaga...