Langsung ke konten utama

Ayo, Bangun Bung!


Selamat pagi, Bung!
Meskipun langit Bandung akhir-akhir ini tampak mendung, apakah itu representasi hatimu saat ini?

Yang tahu persis hanya hatimu sendiri, Bung! Netizen boleh berasumsi dan nyinyir seenaknya. 😂

Yang jelas hidup terus bergerak. Yang pasti arah jarum jam tidak pernah mundur. Terus, mau sampai kapan kamu hidup dipikiran orang lain?

Kalau hidup terus tergerus dan didominansi pihak lain, bagaimana kamu bisa menikmati kemerdekaan dalam hidup?

Ayolah, Bung! Coba berpikir merdeka. Dunia semakin kejam. Tercabik-cabik oleh luka pergaulan global yang kian tampak arah kehancurannnya.

Kalau hidupmu hanya memikirkan hatimu sendiri, dirimu sendiri dan tentang segala hal yang ideal. Kapan kita mau menafkahkan diri dan jiwa kita untuk tujuan hidup yang lebih besar. Perihal kepentingan Ummat Islam,  Bangsa dan Negara?

Oh ya, mungkin kata-kata itu terlalu 'melangit'. Menurutku, tak mengapa. Asalkan tindakan kita dan sikap kita tetap membumi.

Manusia adalah makhluk dinamis. Jangan cengeng dengan masalah apalagi hanya lingkup pribadi. Cobalah mulai berpikir ke luar (Out of the box)

Bahwa dunia hari ini, khususnya Islam sedang tidak baik-baik saja. Musuh tidak pernah 'tidur' menyerang dan siap menerkam kita.

Ayo bangun dari tidur panjang itu, Bung! Kita siap ambil peran di bidang apapun demi perjuangan, kebermanfaatan dan kemaslahatan bersama.
Tabik! 🙏

AAN RIDWAN
Bandung,  16 November 2018!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

1 Dekade IKAMATRA berdiri, Masih Ingatkah Dirimu?

Kemarin, ada notif yang menarik dan berbeda dari grup WhatsApp Alumni IKAMATRA (Ikatan Keluarga Mahasiswa Sumatera) begini isinya: "Kadang Ikamatra hanya organisasi daerah semata. Kadang dianggap tak bermakna. Bahkan yang parah, kadang dianggap sebagai beban dan tak berguna. Tapi bagiku, Ikamatra itu keluarga. Dengan segenap keberagaman orang-orangnya. Ikamatra itu sangat bermakna dengan segala kejadian-kejadian yang ada. Semoga kedepannya Ikamatra tetap ada. Karena kita butuh Ikamatra. Semoga 10 tahun ini menjadikan Ikamatra lebih baik dan baik lagi. Selamat milad keluargaku. (22 November 2008-22 November 2018)" Menurut pandangan Saya, sebagai salah satu alumni dan bagian dari keluarga di dalamnya, kata-kata itu sederhana tapi mampu menusuk dan mengingatkan Saya khususnya, untuk turut merenungkan dan memikirkan. Saya akan coba bedah kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Hingga apasih maksud dan tujuan dari tulisan itu. Kadang IKAMATRA Hanya Org...

Merawat Ingatan

Betapa bahagianya kita, ketika mengingat masa-masa kecil. Betapa menggemaskan kita, ketika membayangkan wajah kita waktu kecil dulu. Betapa cerianya kita, ketika waktu kecil yg dipikirkan hanyalah bermain. Lepas tanpa beban. Betapa harunya kita, ketika kita sadar orang-orang tersayang yg dahulu turut merawat dan mengasuh kita kini sudah mendahului kita. Di foto ini, Saya ingin cerita sedikit tentang segala hal yang membuat bibir Saya tersenyum, mata berkaca-kaca dan hati bersyukur kpd Allah. Yang paling kiri pakai kaos berkerah orange, dia adalah cucu kesayangan. Biasa dipanggil Oye (Bahasa Jawa: Tole). Sebenarnya nama lengkapnya @imamnasrudin_ Tapi karena waktu kecil dia cadel. Makanya dipanggil Oye. Si Oye ini waktu kecil terlihat lucu menggemaskan. Badannya gemuk berisi. Pipinya tembem karena rajin minum susu dan makan yang bergizi. Rambutnya hitam karena kalau mandi sering pakai shampo yang sachetan. Nah, kalau yang paling kanan, pakai kaos garis2 biru itu juga u...

Tentang Pencapaian Sederhana Saya di tahun 2018

Sepanjang tahun 2018, ada beberapa pencapaian sederhana yang telah Saya raih. Mulai dari pencapaian di dunia pendidikan, dunia pekerjaan, dunia perjuangan bahkan tentang mengikhlaskan hati seseorang. Saya bukanlah orang besar. Bukan juga orang hebat. Tapi sepanjang perjalanan tahun ini, Saya sering dipertemukan dengan orang-orang besar dan hebat.  Saya setuju dengan ungkapan "Setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru" karena bagi Saya, kita bisa belajar dimanapun dan kepada siapapun. Tak terbatas oleh ruang-ruang kelas. Tak terhalangi oleh dinding-dinding profesi. Mungkin bisa saja kita belajar kepada seorang tukang becak, kalau isi kepala dan seluruh jiwanya mengajarkan kita tentang bagaimana hidup dengan bajik dan bijak.  Dari hal itu, Saya ingin sedikit berbagi pencapaian yang telah Saya dapatkan. Bukan untuk menyombongkan diri. Tapi lebih ingin bercerita pada diri sendiri, sebelum ke orang lain. Bahwa ada hal-hal sederhana yang patut d...